Kutuhati
  • Home
    • Version 1
  • Home
  • Artikel
  • Cerpen
  • Puisi
  • Tips
  • Suka-suka


Hai, rasanya canggung sekali setelah sekian lama tidak menulis. Tahun 2021 aku telat membayar perpanjangan domain. Sejauh yang kuingat itu karena sedang dalam masa sulit Covid-19. Aku bekerja di Madiun, terisolasi sementara waktu. Penghasilan? tentu saja mengalami banyak penyesuaian. Apa yang membuatku akhirnya mengaktifkan domain lagi padahal sudah 5 tahun berlalu? 

Beberapa waktu lalu aku mampir ke hanatfutuh.com, blog milik kakak tingkat yang sudah aktif menulis sejak kuliah sampai sekarang. Di sana aku membaca sebuah kalimat yang kurang lebih begini "merawat ingatan lewat menulis". Dahiku berkerut, mencoba mengingat hal-hal yang aku lewatkan selama lima tahun terakhir. Ternyata banyak sekali yang hanya kuingat sepotong kecil. Lebih banyak hal menyakitkan daripada bahagianya. Padahal hidup mana yang selalu sengsara, iya kan? Bahagia dan luka pasti berdampingan. Tapi rasanya ingatanku berhenti di satu titik saja yaitu luka. 

Wah, ini tidak baik, pikirku. Sepertinya ada yang salah. Memang setelah menjadi ibu aku menyadari bahwa daya ingatku menurun, kemampuanku untuk berkonsentrasi juga tidak sebaik sebelumnya. Jujur saja lima tahun belakangan aku malas sekali membaca sampai tuntas. Menulis? Ya hanya sekadar mencatat urusan pekerjaan di notes ponsel.

Benar juga yang Mbak Hanat tulis, menulis bisa jadi salah satu cara untuk merawat ingatan. Tanpa banyak berpikir, aku mengirim pesan di instagram kepada salah satu adik tingkat yang dulu membantuku membuat kutuhati.com. Dia menyarankanku menghubungi pihak penyedia domain untuk memastikan apakah domainku masih bisa diaktifkan kembali. Ternyata masih bisa, wah aku senangnya bukan main. Kubayar perpanjangan domain 129 ribu. Kuanggap sebagai hadiah ulang tahunku. 

Apakah terkesan menyedihkan? 129 ribu untuk sebuah hadiah yang kuberikan untuk diri sendiri? Ah tidak juga. Ini ulang tahun spesial karena 30 untuk usia 30. Maka aku ingin memberikan ruang yang panjang dan luas untuk menulis. 

Selamat datang usia 30, kita menulis lagi ya. 



 

Sumber gambar: hitecno.com


Menjadi admin akun instagram dengan konten yang lucu adalah pilihan terakhir Nino setelah ditinggal menikah oleh pacarnya, Mila. Pekerjaan Nino yang terbilang cukup banyak waktu luang membuat dia harus mencari kesibukan ekstra agar bisa melupakan mantannya. Lima tahun pacaran tentu bukan waktu yang sebentar. Kenangan manis dan pahit sudah terpatri di ingatannya. 

Sebagaimana sebuah luka, lama kelamaan akan sembuh juga walaupun tidak sempurna. Setidaknya Nino bisa bernapas lega ketika tiba-tiba ingatan tentang Mila muncul. Nino tidak lagi merasakan sesak di dada. Tiga tahun usaha untuk melupakan Mila, tampaknya memang membuahkan hasil. Meskipun hingga saat ini Nino belum juga mendapatkan pacar baru. 

Sebenarnya, wajah Nino lumayan ganteng. Tidak jarang banyak cewek pelanggan konter tempatnya bekerja meledek Nino. 

“Lumayan good looking kok masih jomblo Mas Nino. Sama aku aja, mumpung suami lagi kerja luar kota.”

Nino tidak menggubris karena kebanyakan yang naksir adalah ibu-ibu muda yang kesepian. Di sela pekerjaan utamanya, Nino sibuk mengelola sosial media yang digawanginya. Setiap hari setidaknya ada 3 konten lucu yang dia unggah. Konten tersebut selalu berhasil membuatnya terhibur dan merasa dunianya sedang baik-baik saja. 

Seperti biasa, setiap Selasa dan Kamis malam, Nino mengadakan sesi QnA maupun sharing. Topiknya beragam dan selalu berganti-ganti. Kamis malam kali ini adalah tentang hal konyol saat kencan pertama. Balasan dari para followers akan Nino bagikan di IG story tanpa mencantumkan nama akun mereka. Ini adalah sesi paling seru. Dari situlah Nino bisa menghibur diri. Kadang memang lebih baik membaca kisah orang dari pada membaca kisah sendiri. 

“Kekonyolan saat kencan pertama versi aku nih min. Aku janjian di taman malam-malam. Aku sama doi milih duduk di bangku bawah pohon. Milih yang agak gelap soalnya. Haha. Lagi ngobrol sambil pegangan tangan, tiba-tiba doi kesurupan. Pengin punya pacar yang mukanya estetik eh dapetnya malah yang mistis begini. Sial!”

Nino jadi teringat mantan kekasihnya. Mila juga penuh dengan hal-hal mistis dan misterius. Dia tidak mau diajak jalan pada malam dan hari-hari tertentu karena katanya pantangan. Dalam hal memilih pacar, Mila juga sangat selektif. Ada kriteria tertentu yang Nino sendiri tidak tahu sampai saat ini.

“No, kamu yang terbaik. Aku seneng bisa kenal kamu. Kamu memenuhi semua kriteria. Jangan tanya kriterianya kayak apa. Kamu cukup bercermin dan lihat ada siapa di cermin itu.”

“Ada aku lah, Mil. Iya kan?” 

Mila hanya tersenyum kala itu. Sampai saat ini, Nino belum pernah benar-benar bercermin. Nino takut kalau dirinya tidak seganteng yang dia kira. Nino tentu sangat bangga bisa dicintai oleh Mila yang cantik dan anak orang berada. Teman-temannya banyak yang tidak percaya dan mengira jika Mila diguna-guna oleh Nino.

“Permisi.”

Suara perempuan mengalihkan fokus Nino. Nino menoleh. 

“Mas, mau beli kartu.”

Wajah perempuan itu tidak terlihat jelas karena memakai masker dan sibuk melihat-lihat kartu perdana di etalase. Rambutnya hitam panjang terurai. Nino kenal dengan bau parfumnya, wangi bebungaan yang menyengat.

“Mil....” 

“Nino. Hai apa kabar?” Sapa mila sambil melepas masker.

“Baik, Mil. Kamu kapan kesini? 

“Kemarin. Kebetulan lagi ada urusan.”

“Oh..Eh malah aku nggak tanya balik. Kamu gimana kabarnya? Emh, lebih tepatnya keluarga kecilmu bagaimana?”

“No, kartu yang ini dong satu.”

Mila mengalihkan pembicaraan. Nino mengambil kartu yang dimaksud Mila. 

“Sekalian di registrasi ulang ya No. Aku bawa catetan no KK dan NIK nya kok.”

Nino mengangguk. 

“Satu lagi, pulsanya sekalian.”

Setelah selesai, Mila langsung bergegas dengan wajah yang murung. Nino memandangi nomer telfon Mila yang tercatat di buku pembelian pulsa. Dia bermaksud untuk menghubungi Mila untuk menanyakan keadaannya yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja. 

“Ah nanti dikira petrikor, pengganggu istri orang.” Gumamnya sambil menutup buku tersebut dan bersiap menutup konter. 

Sepanjang perjalanan pulang, Nino terus memikirkan Mila. Tiga tahun perjuangan melupakan, sekarang terancam goyah karena pertemuan yang sebentar. Selama seminggu, Nino berhasil menahan hasratnya untuk mengubungi Mila. Tapi hari ini, dia gagal. Tanpa basa-basi Nino langsung mengirim pesan dan menanyakan perihal kemurungan Mila seminggu yang lalu.

Nino sudah bersiap diri jika yang membalas adalah suami Mila dan dia kena semprot. Jantungnya berdegub lebih kencang, matanya tajam menatap layar ponsel. Kluning! Mila membalas pesannya dan mengajak Nino bertemu. Kepalang senang, Nino mengiyakan tanpa pikir panjang.

Malam minggu mereka bertemu di tempat ngopi. Mila mengenakan dress putih. Rambutnya panjang terurai. Wajahnya masih muda. Tubuhnya masih ramping dan berisi. Nino yakin banyak orang mengira jika Mila masih single. 

“Kamu mau aku pesankan kopi hitam, Mil?”

“Boleh.”

Malam itu, mereka berdua seperti pasangan muda mudi yang sedang dimabuk asmara. Cerita di atas meja kopi tidak sepahit kopi hitam tanpa gula pesanan Mila. Nino memegang tangan Mila. Dia lupa siapa yang sedang ia kencani malam ini.

“No, bagian manisnya udah aku ceritain. Sekarang pahitnya.” Ujar Mila lalu menyeruput kopinya.

“Oke aku siap dengerin, Mil.”

“Mungkin ini karma ya No karena aku udah ninggalin kamu tanpa alasan. Seratus tiga puluh hari setelah nikah sama Mas Ardit, aku hamil.”

“Eh bentar Mil” Nino menyela “Kenapa pakai kata seratus tiga puluh hari? Kan bisa gitu 3 bulan?”

“Biar lebih pasti aja. Kamu kan tau aku orangnya detail. Aku lanjutin ya. Anak aku lahir normal. Sayangnya, di usianya yang baru 13 hari, dia meninggal. Nggak ngerti kenapa. Meninggal begitu aja. Selang 13 bulan setelah setelah anak aku meninggal, Mas Ardit nyusul anak aku No.”

“Nyusul ke kuburan?”

“Iya maksud aku dia meninggal.”

Antara sedih dan senang, itu yang Nino rasakan setelah mendengar cerita Mila.

Setelah pertemuan malam itu, Nino dan Mila semakin dekat. Mila memustuskan untuk memperpanjang kunjungan ke rumah saudaranya demi bisa berlama-lama dengan Nino. Tidak butuh waktu lama untuk mereka kembali menjalin cinta. Nino membayar 3 tahun perjuangan melupakan Mila dengan cara menikahi janda muda itu. 

“Maaf ya No. Nggak semewah dulu waktu aku nikah sama mas Ardit. Soalnya orang tuaku usahanya lagi bangkrut. Jadi nggak bisa nyumbang dana lebih.”

“Aku yang harusnya minta maaf Mil. Nggak bisa bikin resepsi yang mewah.”

“Tapi tenang aja, nanti pasti kita kaya kok.” 

Nino tertawa. Bahan becandaan istrinya kali ini cukup membuatnya optimis jika suatu saat nanti mereka memang akan menjadi orang kaya.

Seminggu setelah menikah, Mila terlihat gelisah. Setiap kali ditanya, dia tidak mau menjawab. Nino tidak mau memaksa istrinya untuk bercerita. Baginya, Mila pasti akan bercerita jika sudah siap. Malam itu, seperti biasa Nino bekerja sampai pukul 9 malam. Sambil menunggu pembeli, dia kembali membuka sesi sharing di media sosial. Kamis malam kali ini tentang rahasia.

Nino membaca komentar dari followers satu per satu.

“Min, aku nggak tahu ini rahasia apa bukan. Aku sayang banget sama suamiku yang sekarang. Tapi aku terpaksa nyakitin dia. Kalau bisa memutar takdir, sejak awal aku lebih milih dia dari pada ayahku. Malam ini, mungkin malam terakhir aku lihat dia Min.”

Dahi Nino berkerut. Dia mengklik profil akun tersebut.

“Mila!” Nino terkejut. Nino mengusap wajahnya. Beruntung Nino belum menceritakan tentang pekerjaan sampingannya sebagai admin. Sehingga Mila tidak tahu jika dia sedang membuka rahasia kepada suaminya. 

Hati pengantin baru itu resah. Dia izin pulang cepat. Sesampainya di rumah, istrinya tidak ada. Nino berdiri di depan cermin di kamarnya. Kali ini, dia benar-benar bercermin. Nino memandangi pantulan dirinya. Hanya ada dia. Dia yang menyayangi Mila dengan baik.

“Harusnya kamu cuma lihat aku Mil. Nggak ada orang lain di cermin. Cuma aku. Emang ada yang lebih berharga dari aku? Orang yang kata kamu terbaik?” Nino bicara sendiri.

“No.” Mila muncul dari balik horden.

“Mil. Malam ini kamu mau pergi? Salah aku apa Mil?”

“Nino maaf. Harus kaya gini cara aku ngasih tau ke kamu. Aku tahu kamu admin akun itu kok. Makanya aku tulis pesan itu buat kamu. Aku cuma bisa sampaikan lewat tulisan. Aku nggak sanggup kalau ngomong langsung.”

“Kamu mau pergi kemana?” tanya Nino lagi, matanya berair. 

“Bukan aku yang pergi, No. Tapi kamu.” 

Nino kembali menatap cermin, dia tidak sendirian. Itu adalah hal terakhir yang dia lihat sebelum dia pergi untuk selamanya.

Mila berjalan ke arah meja rias. Mengambil standing calender lalu menyilang sebuah tanggal menggunakan spidol merah.

“Tiga belas November 2020, Nino.” ucapnya lirih. 



Dokumen Pribadi


Halo, selamat datang di Kutuhati dan salam kenal buat kalian yang baru aja mampir di personal blog aku. Bagi kalian yang udah kenal aku, kali ini kontennya beda banget ya dari sebelumnya. Lagi iseng nih di rumah kebetulan cuti 3 bulan karena habis kecelakaan dan operasi tulang ekor. So, bosen banget ya kan di rumah. Nah buat ngisi waktu yang teramat luang, aku mau DIY tote bag dari celana jeans bekas. Kebetulan di rumah punya lumayan banyak celana jeans yang udah nggak kepake. Karena aku udh 6 tahun ini stop pakai celana jeans.

Yuk langsung intip gimana cara pembuatannya:

1. Siapkan celana jeans yang udah nggak kepake. Nggak harus celana si, rok atau jaket gitu juga bisa asalkan udah nggak kepake. Potong bagian bawah sepanjang 45 cm. Untuk ukurannya bisa sesuai selera ya. Boleh lebih atau kurang dari 45 cm.

Dokumen Pribadi

2. Setelah dipotong, gunting bagian jahitannya seperti gambar di bawah ini ya.

Dokumen Pribadi


3.Gambar pola kotak ukuran 8 cm x 8 cm di bagian pojok bawah kain seperti gambar berikut. Ukuran pola sesuai selera ya. Semakin lebar maka volume tas kalian semakin besar. Begitu juga sebaliknya.

Dokumen Pribadi


4.Setelah digambar polanya, gunting bagian tersebut. Agar hasilnya lebih akurat dan rapih, kalian bisa menggunakan bantuan jarum seperti gambar di bawah ini.

Dokumen Pribadi


5. Setelah kedua pola tersebut dipotong, kain akan tampak seperti gambar di bawah ini. 

Dokumen Pribadi


Jahit bagian yang aku kasih tanda garis putus-putus warna merah ya. Boleh jahit manual pakai tangan atau pakai mesin. Kalau aku pakai tangan karena nggak punya mesin jahit dan nggak bisa pakai mesin jahit. Heeee ~

6.Selanjutnya jahit bagian pojok kain dengan posisi seperti gambar di bawah ini ya.

Dokumen Pribadi


7.Untuk tali tasnya, kalian bisa gunting bagian pinggang celana. Panjangnya bisa disesuaikan dengan keinginan kalian. 

Dokumen Pribadi


8.Jahit masing-masing ujungnya di bagian pinggir tas. Nah kalian bisa lihat di salah satu ujungnya ada yang tidak rapih. Itu aku sengaja biar dapet efek unfinishnya. Kalau kalian pengin rapih bisa dijahit dulu tepi ujungngnya.

Dokumen Pribadi


Selain ini, kalian juga bisa taruh sambungan tali tasnya di bagian dalam. Kalau aku ini di bagian luar tasnya karena pengin aja si. Hihihi

9.Biar nggak polos banget tasnya, boleh dikasih ornamen sesuai keinginan kalian. Aku pakai ornamen seperti gambar di bawah ini ya.

Dokumen Pribadi

Dokumen Pribadi

10.Jahit ornamen di bagian yang kalian suka. Karena aku pingin ada 2 look di 1 tas, jadi masing-masing ornamen aku jahit di sisi yang berbeda. Penampakannya seperti gambar di bawah ini. 

Dokumen Pribadi


Sekian teman-teman untuk DIY kali ini. Semoga bermanfaat ya. Selamat berkarya. Salam sayang dari aku.




Sumber gambar: pixabay


Selain perkataan Ibunya, Kalu juga menuruti apa yang pacarnya katakan. Jika hari itu pacarnya bilang jangan makan mie, Kalu tidak akan makan mie. Walaupun, bisa saja Kalu berbohong kepada pacarnya, lagi pula mereka tidak tinggal di rumah yang sama. Sejauh ini, apa yang pacarnya katakan adalah hal-hal baik.

“Nggak usah antar aku latihan basket ya. Soalnya teman-temanku hari ini diantar sama pacarnya. Mereka ganteng-ganteng.”

“Oke, Iyut.”

Shila, begitu pacar Kalu biasa dipanggil oleh kebanyakan orang. Tentu Kalu punya panggilan sayang sendiri, Iyut. Sedikit menggelikan. Tapi panggilan sayang itu sudah ada sejak mereka pacaran, 4 tahun lalu. Tepatnya, saat mereka berdua masih SMA. Sekarang, Kalu dan Shila kuliah di kampus yang sama, satu fakultas tapi berbeda jurusan. Mereka semester 3.

Kegiatan sehari-hari Kalu dan Shila sangat berbeda, walaupun sama-sama mahasiswa. 

“Iyut, dimana?”

“Lagi nongkrong di kafe.”

“Aku masih di perpustakan. Habis ini mau makan di warung Bu Dikin. Kamu mau aku beliin kerupuk udang?”

“Nggak usah. Ini aku malah lagi makan udang utuh, fresh juga.”

Meski terkesan dingin, Shila adalah satu-satunya orang yang perkataannya tidak pernah membuat Kalu tersinggung. Setidaknya, sampai detik ini. Dan, bagi Shila, meski Kalu jauh dari kata tampan, dia adalah satu-satunya pacar yang tidak tersinggung dengan ucapannya. Shila pernah putus dengan pacar sebelumnya karena hal yang kecil.

“Mata kamu kecil. Sempit gitu.”

Shila bukannya mempermasalahkan fisik, hanya saja dia gemar mengomentari banyak hal dan terlalu blak-blakan. Termasuk mengomentari tulisan Kalu yang akan dikirim ke website. Setiap minggu, setidaknya tiga kali, Kalu mengirim tulisan ke website milik kakak kelasnya, Mas Edo. Dari tulisan itu, Kalu mendapatkan bayaran yang uangnya bisa untuk makan di kafe bersama Shila.

“Kal, kamu pesan apa?”

“Es teh aja. Iyut mau apa?”

“Aku, udang ya?”

Kalu mengangguk. Keren sekali rasanya bisa mentraktir Shila makan udang di kafe. Sementara dia, minum es teh yang gelasnya tidak lebih berat dari gelas es teh di warung Bu Dikin. Setelah makan, mereka tidak langsung pulang. Uang hasil menulis akan kurang maksimal kegunaannya jika hanya untuk makan di kafe tanpa berlama-lama menikmati fasilitas wifi. 

Kalu bertukar tempat duduk dengan Shila agar lebih mudah menjangkau stop kontak. Dia menghidupkan laptop dan mulai menulis. Sejak semalam, tulisannya belum bertambah, masih setengah halaman. 

“Udah dibilangin, jangan nulis horor. Kamu tuh nggak bisa. Ke kamar mandi malam-malam aja telfon aku buat nemenin biar ada suara. Ini sok-sok an mau nulis horor. Buntu kan?”

“Pengin yang beda aja gitu, Yut.”

“Udah. Kamu itu cocoknya nulis romance. Apalagi kalau sad ending. Lagian, cocok sama muka kamu.”

Dip. Layar laptop Kalu gelap. Kalu mengelapnya. Wajahnya yang sendu dari lahir, terlihat jelas di layar. Dia memandangi wajahnya sendiri selama beberapa detik, kemudian menoleh ke Shila.

Kenapa, Kal? Dapat inspirasi?”

“Bukan. Kamu cabut charger laptopku, jadinya mati deh. Aku kan mau nulis.”

Kalu mengurungkan niatnya untuk menulis cerita horor. Sore yang mendung ketika mereka pulang dari kafe. Sebentar lagi, Kalu akan mendapatkan jasa cuci motor gratis. Lumayan, sudah dua minggu Kalu belum mencuci motornya. Setidaknya kali ini motornya diguyur air. 

Shila tidak pernah keberatan jika harus hujan-hujanan. Bahkan, jas hujan yang hanya ada satu itu dengan suka rela dia minta dipakai Kalu saja. Karena terakhir kali Kalu hujan-hujannya, dia demam tinggi hingga sakit berhari-hari. 

“Nanti seperti biasa sebelum dikirim, aku baca dulu tulisan kamu ya Kal. Jangan lupa, loh!”

Shila berbicara setengah berteriak. Suaranya bersahutan dengan hujan. Kalu mengangguk meski tidak terlalu mendengar apa yang Shila ucapkan. Kalu mengantar Shila pulang ke kos, kemudian pulang ke rumah tantenya yang tidak terlalu jauh dari kampus. Disanalah Kalu tinggal. Lumayan irit, dari pada ngekos.

Selesai dengan urusan membersihkan badan, Kalu kembali menyalakan laptopnya. Dia ingin bisa menulis cerpen horor. Tapi Shila bilang, dirinya tidak cocok dengan genre tulisan itu. Kalu membaca kembali pesan dari Mas Edo. Beberapa hari lalu, Kalu ditanya tentang cerpen horor.

“Kal, kalau nulis cerpen horor bisa nggak kamu? Soalnya di tetangga sebelah lagi rame tulisan itu. apalagi sejak ada kejadian isu penampakan kuntilanak di kampus kita. Tapi misal kamu nggak bisa, nggak apa-apa Kal. Jangan dipaksain.”

Kalu memang ingin mencoba menulis genre lain, termasuk horor. Selama ini, banyak orang menganggapnya spesialis cerpen romance. Kali ini, dia ingin membuktikan kepada orang-orang, kalau dia bisa menulis cerpen horor. Malam itu, Kalu lembur menulis. Meski sedikit takut saat akan ke kamar kecil, Kalu berhasil tidak menelfon Shila untuk minta ditemani.

Selesai. Dengan sumringah Kalu mengirim email ke Mas Edo. Selang satu jam, hapenya berdering.

“Kal, itu kamu yang nulis?” tanya suara di seberang sana.

“Iya, gimana Mas? Misal nggak cocok, aku ada kok cerpen yang seperti biasanya, romance.”

“Cocok kok. Aku muat aja ya sambil liat gimana respon pembaca.”

Lega, Kalu segera tidur. Besok jadwal kuliah yang padat sudah menanti. 

Di kelas, Kalu mendapat beberapa pujian dari temannya tentang cerpen horor pertamanya. Maklum, website yang dia isi memang cukup dikenal di fakultasnya, terlebih si pemiliknya ganteng dan popular di kalangan mahasiswi. Untuk seseorang yang baru pertama kali menulis cerpen horor, Kalu senang atas pujian itu. Dia semakin tertantang untuk kembali menulis cerita horor yang lebih baik.

Kelas pertama selesai, Kalu bergegas ke perpustakaan untuk menikmati koneksi wifi yang stabil. Shila datang, menunda langkah Kalu. Shila menanyakan tentang cerita horor yang Kalu tulis. Kalu tidak sabar menceritakan kepada Shila tentang respon para pembaca. Mulutnya hampir terbuka, tapi Shila mendahuluinya.

“Kenapa nggak dikirim ke aku dulu? Biasanya kan gitu, selalu! Kamu kirim tulisan itu ke aku sebelum dikirim ke bos kamu itu. Udah ngerasa jago? Udah nggak perlu minta saran dari aku?”

Semalam, Kalu lupa melakukan hal yang selalu dia lakukan. Dia terlalu bersemangat.

“Maaf, Iyut. Aku semalam langsung kirim ke Mas Edo. Terus kata dia oke. Kita coba terbitin. Aku pikir ya memang sudah oke.”

“Tapi itu bukan kamu Kal. Kamu cocoknya nulis romance. Nggak peduli apa yang lagi populer di kampus kita, kuntilanak kek, sundel bolong kek, tuyul, apa pun itu. Lagian cerita horor kamu itu nggak jelas.”

“Tapi mas Edo bilang ok. Teman-teman aku yang baca juga pada kasih pujian, Yut.”

“Terus kamu jadi merasa jago gitu nulis horor?”

“Yut, bos aku mas Edo ya. Bukan kamu. Kenapa kamu yang jadi ngatur konten sih?”

Mereka saling diam sepersekian detik. Sampai akhirnya Shila pergi lebih dulu meninggalkan ruang kelas Kalu. Beberapa mahasiswa yang masih berada di kelas memandang ke arah Kalu. Wajah sendu lelaki itu, kali ini marah. Kalu tidak habis pikir jika Shila begitu mempermasalahkan cerpennya. Padahal, Kalu berharap kekasihnya itu memberikan apresiasi atas cerpen horor pertamanya. 

Dua hari Shila tidak mengubungi Kalu, begitu pun sebaliknya. Kalu semakin menikmati pengalamannya menulis cerpen diluar genre yang dikuasainya sejak lama. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Mas Edo, nongkrong di gazebo depan fakultas. Tentu saja, banyak perempuan yang dengan sengaja mendekati Mas Edo, sementara Kalu berkali-kali menggaruk kaki karena yang mendekatinya adalah semut. Biasanya, Shila datang sekadar bertanya sedang nulis apa atau mengerjakan apa dan meletakkan infused water di dekat Kalu.

“Dihabisin ya.” Setelah itu pergi sambil ketawa ketiwi dengan teman-temannya.  

Kalu menatap layar hapenya. Foto Shila terpampang jutek disana. Tapi tetap cantik. Terbersit untuk menghubungi Shila dan meminta maaf lebih dulu. Kalu mengurungkan niatnya. Lebih baik memintaa maaf secara langsung. Kalu mencari waktu yang tepat.

Malam hari pukul 7, Kalu datang ke kos Shila. Biasanya, Shila sedang duduk di teras sambil bermain gitar. Tapi kali ini, dia tidak ada. Ibu kosnya bilang, Shila pergi dengan teman lelakinya. Kalu mencoba mengubungi Shila, tapi tidak bisa. Pikirannya melayang-layang.

Pagi hari sebelum berangkat ke kampus, Kalu mencoba menghubungi Shila. Hasilnya nihil. Kalu ingin datang ke kelas Shila, tapi dia tidak tahu jadwal kuliah kekasihnya itu. Lain halnya dengan Shila, dia selalu punya jadwal kuliah Kalu setiap semesternya. Kalu ingin bertanya pada teman Shila, tapi dia sama sekali tidak hafal satu pun wajahnya. 

Kalu berjalan di koridor dengan lesu. Mata kuliahnya diundur 2 jam lagi. Padahal dia sudah berusaha bangun pagi setelah semalam tidak bisa tidur memikirkan Shila.

“Hai Kal, gimana cerpennya? Udah jadi?” Mas Edo membuyarkan lamunannya.

“Nanti malam aku kirim Mas.”

Sebenarnya, Kalu sudah kehabiskan ide cerpen horor. Dia tidak tahu apa yang lagi yang harus ditulisnya, buntu. 

“Oke. Sibuk nggak?”

“Nggak si Mas.”

“Kebetulan aku lagi diskusi kecil-kecilan di kelas yang itu tuh. Gabung aja. Aku mau ke kamar mandi dulu sebentar.”

Kalu mengiyakan. Kemudian berjalan menuju kelas yang dimaksud oleh Mas Edo.

Eh, cerpennya Kalu yang horor itu ngebosenin nggak si? Gampang ditebak gitu.” 

Suara di dalam kelas menghentikan langkah Kalu. Dia memasang pendengarannya dengan baik. 

“Iya setuju banget.” Suara perempuan lain mengiyakan.

“Ah tapi aku tetep baca, like, komen aja gitu. Itung-itung mendukung websitenya Mas Edo.” Timpal yang lainnya

“Kalau aku sih nggak baca. Langsung komen KEREN, gitu aja.” 

Setelah itu, mereka tertawa, Kalu menelan ludah. Dia buru-buru pergi sebelum Mas Edo kembali dan mengajaknya masuk. Kalu menuju ke parkiran. Lalu mengendarai sepeda motornya tanpa tujuan. Baginya, perkataan mahasiswi tadi adalah salah satu jenis patah hati. Cerpen yang susah payah dia tulis, ternyata tidak sebaik yang dia kira. Orang-orang tidak menghargai karyanya, mereka hanya kagum kepada Mas Edo. 

Patah hati yang demikian, belum pernah Kalu rasakan selama dia menulis cerpen romance. Tidak pernah ada yang salah. Temannya bahkan sering mengajak Kalu berbincang tentang tokoh dalam cerpennya. Bukan sekadar bilang keren, bagus, oke. Beberapa teman perempuannya bahkan berharap jika tokoh itu hidup di dunia nyata. 

Kalu masih mengendarai sepeda motornya. Pikirannya tentang cerpen dan Shila bergantian mengusik kosentrasinya berkendara. Kalu memutuskan untuk datang ke kos Shila. Dia melihat Shila sudah berpakaian rapi. Shila masuk lagi ke kos dengan muka panik. Tidak lama kemudian, Shila keluar, masih dengan kepanikannya.

"Iyut.” Sapa Kalu 

“Kal, aku buru-buru. Udah telat.”

“Aku minta maaf.”

“Kal, A-KU U-DAH TE-LAT.”

“Kamu bener Yut. Aku nggak perlu maksain nulis cerpen horor.” 

Shila menghela napas kesal. Tapi Shila merasa harus mendengarkan Kalu.

“Cerpen horor aku jelek Yut. Mereka nggak bener-bener suka, bahkan ada yang sama sekali nggak baca. Mereka Cuma peduli sama Mas Edo, bukan apa yang aku tulis.” Lanjut Kalu.

“Aku akan nurut lagi apa kata kamu Yut, seperti biasanya.” Tutup Kalu, lirih.

“Nggak harus, Kal.”

“Kenapa?”

“Bagi aku hubungan ini nggak sehat. Kalau kamu selalu nurut apa kata aku.”

“Tapi apa yang kamu bilang selalu bener, Yut.”

“Nggak. Kalau waktu itu kamu nurut sama aku, kamu nggak mungkin dapat pelajaran dari kejadian ini kan? Kamu nggak tahu gimana rasanya kecewa ketika karya kamu disepelakan orang. Kamu nggak bakalan jadi lebih kuat Kal. Kamu cuma berada di zona nyaman yang tanpa kritikan. Dimana orang-orang suka sama cerpen romance kamu.”

Kalu dan Shila terdiam. Menyelami pikiran masing-masing. Shila melihat jam di tangannya. Sudah sangat telat untuk berangkat ke kampus.

“Kal, selama ini aku pikir aku adalah orang yang tahu segala hal  yang terbaik buat kamu. Ternyata aku salah. Kamu harus lebih berani lagi Kal untuk ikutin apa kata hati kamu. Aku nggak mau, gara-gara aku, kamu tumbuh tapi kerdil.”

“Kaya bonsai maksud kamu?”

“Aku nggak becanda Kal.”

“Aku mau tumbuh sama kamu. Boleh aku nurutin kata-katamu yang sesuai sama kata hatiku? Selebihnya, kita belajar bareng biar bisa tumbuh lebih baik lagi. Tumbuh jadi dua orang yang berbeda untuk melengkapi satu sama lain.”

Shila tersenyum, kemudian tertawa.

“Sumpah ya geli diperlakukan kaya cewe-cewe di cerpen kamu. Dah yuk ah jalan-jalan ngabisin bensin.” Shila menarik tangan Kalu.

“Katanya kamu mau kuliah?”

“Udah telat banget.”

Shila dan Kalu mampir ke warung Bu Dikin, membeli kerupuk udang. Kemudian mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol sambil menikmati kerupuk. Mereka memilih pergi ke taman kota. Duduk di tempat yang teduh.

“Iyut, kayaknya aku bakalan lebih jarang ngajak kamu makan udang di kafe.”

“Kenapa?”

“Aku nggak gajian lagi dari Mas Edo. Mau bikin blog sendiri aja.”

“Selamat bertumbuh, Kal.”








Sumber gambar: kompasiana.com

Hai, aku Gita. Tapi ada juga yang panggil April. Kali ini aku mau berbagi cara move on dari mantan. Move on itu artinya “berpindah”, jadi masih masih bersifat umum. Nggak harus tentang cinta, bisa juga move on dari baju kesayangan, motor kesayangan, sandal favorit, ikat rambut favorit, dan lain-lain. Cuma, kita lebih sering mengaitkan kata move on dengan dunia percintaan. Pasti udah akrab banget dong dengan kalimat GAGAL MOVE ON?

Sekarang, bisa jadi kamu juga sedang berada di fase ini. Makanya tertarik untuk baca. Atau, emang pengin mampir di blog aku dan mencari sesuatu untuk dihujat? Apaan si negatif thinking terus deh. Hihi. Oke balik ke move on. Di tulisan ini aku spesifik bahas tentang move on dari mantan ya, sesuai judulnya. Mantan yang aku maksud di sini bukan sekadar mantan pacar ya, tapi bisa juga mantan gebetan. Karena ada populasi manusia di bumi ini yang patah hati sebelum sempat memiliki.

Aku yakin, kalian udah melakukan berbagai usaha untuk move on dari dia. Bahkan ada yang udah melaluinya selama bertahun-tahun dan masih aja merasa gagal. Kenapa ya kok gagal? Kenapa hati kita masih tertuju ke dia? 

Yuk mari sini sayang, aku ajak kamu menelaah, ceilah menalaah. Hihi. Emh, aku ajak kamu untuk menengok enam cara move on yang mungkin selama ini sedang atau sudah kamu coba, dan mana sih sebenernya yang paling pas buat kamu.

1. Ganti nomer telfon

Ada orang yang begitu putus atau gagal memiliki calon gebetan, mereka memilih untuk ganti nomer telfon, termasuk aku. Nggak tanggung-tanggung, kartunya aku patahin, buang deh ke tempat sampah. Kalau ingat kejadiannya jadi geli sendiri. Kamu pernah nggak lakuin itu? Gimana efeknya?

Menurut aku, seketika emosi kita akan tersalurkan. Semacam, oke fine! Bye! Tapi setelah itu ada hal-hal yang sedikit merepotkan diri sendiri. Mulai dari beli kartu lagi, registrasi ulang kartu, apalagi sekarang kan ada minimal registrasi. Nah, untuk orang-orang yang sebenernya males ribet dengan hal-hal kecil (sukanya ribet sama hal besar, seperti perihal menyelamatkan dunia), ini tuh asli bikin males. Tapi gimana lagi, kartu udah terlanjur dibuang mungkin. Kan mau nggak mau harus beli lagi. Belum nanti memasuki sesi menghubungi nomer di kontak untuk kasih tahu kalau nomer telfon kita ganti. Responnya juga macam-macam, ada yang sekadar oke aku save. Ada juga tanya kok ganti lagi, nomer yang dulu berarti udah nggak dipake? Kenapa ganti nomer? 

Ya ampun, ngejelasinnya itu loh, males. Itu sih yang aku rasain. Bayangin misal kamu sering patah hati dan setiap kali itu terjadi kamu berniat untuk move on terus kamu ganti nomer, berapa orang di kontak hape yang kamu bikin kesel? Lama-lama orang juga males itu nyimpan nomer kamu. Mana ujung-ujungnya kalau nongol mau utang, atau nggak nyebar undangan. Hmm

Tapi positifnya ganti nomer yaitu kamu jadi punya nomer baru. Hihi. Ya iyalah.

2. Memblokir semua sosial media mantan

Cara yang satu ini juga nggak kalah popularnya. Uhuy. Bahkan, beberapa teman dekat kita mungkin pernah merekomendasikannya.  Dan aku pun pernah pakai cara ini karena termakan rekomendasi teman. Tujuannya sih biar nggak usah tahu lagi apapun tentang mantan dan dia juga nggak perlu tahu tentang kita.

Tapi eh tapi, justru rasa penasaran semakin berkecamuk. Yaelah berkecamuk. Pokonya malah jadi penasaran. Semacam, dia apa kabar ya? Dia sedih nggak sih habis putus sama aku? Fotoku masih ada nggak ya di sosmednya? Dia punya gebetan baru nggak sih? Dan masih banyak lagi. Alhasil, ya, buka blokir. Damn!

Pokonya, cara nomer dua ini untuk orang-orang yang perpegang teguh pada prinsip “kita berakhir di dunia nyata, berakhir juga di dunia maya”. Nah, kalau kamu termasuk golongan tersebut, cara ini bisa jadi ampuh. 

3. Menghilangkan jejak dokumentasi bersama pacar/gebetan

Cara ini akan sangat merepotkan kalau kamu adalah tipe orang yang suka post foto bareng pacar di sosmed. Misalkan, pacaran 5 tahun, seminggu tiga kali upload foto bareng, maka:

52 minggu x 3= 156 foto

Belum lagi postingan yang nggak ada foto dia tapi caption-nya tentang dia, ya kan harus dihapus atau diedit lah minimal. Itu yang di sosmed, belum yang di laptop mungkin, yang dicetak dan ditempel di dinding lengkap dengan lampu tumbler warna-warni, yang di dompet, di plafon kamar, di balik pintu, arghhh, pokonya banyak. Tapi ya nggak apa-apa agak repot. Yang penting hilangkan jejak dokumentasi. Hiya!

Buat yang punya sedikit banget dokumentasi bersama pacar/gebetan, betapa beruntungnya kamu kalau mau pakai cara ini, nggak ribet. Paling ngerasa sayang aja. Yaelah sayang, punya cuma sedikit, harus dibumihanguskan pula. 

Selain menghilangkan jejak dokumentasi foto maupun video, bisa juga dengan membuang atau mengembalikan barang pemberian mantan. Intinya si, apapun yang berhubungan sama dia, musnahkan. Katanya, biar nggak lihat dan nggak keingat-ingat lagi. Gitu. 

Eh tapi, aku masih simpan jaket dari mantan. Modelnya jaket baseball gitu, warnanya hitam abu-abu. Haha. Hai mantan, baca dong. 

4. Cari pacar/gebetan baru

Cara keempat ini nggak semudah membalikkan telapak tangan. Ya karena ini adalah perihal membuka hati dan belajar memulai dari 0 lagi. Makanya nggak heran kalau ada orang udah lama putus tapi masih sendiri. Atau, udah deket banget sama gebetan eh gagal memiliki, terus ya udah. Males nyari gebetan lagi. Walaupun mungkin udah banyak teman yang kasih saran supaya cari pengganti. Ada juga yang gercep, tiba-tiba udah dapet yang baru. Bahkan lebih baik dari yang kemarin. Kalau aku sih nggak pakai cara ini. Asli, kalau diniatin cari yang baru malah nggak dapet aku tuh. Haha. 

Bagi kamu yang mau pakai cara ini, pesan aku, nggak perlu buru-buru, nggak usah paksain dapet yang baru hanya kerena nggak betah kelamaan sendiri, jangan jadiin yang baru sebagai pelampiasan. Kalau kamu emang butuh jeda, kasihlah jeda. Oke?

5. Pindah kota/tempat tinggal/tempat kerja

Cara ini ala-ala di novel atau film-film gitu ya. Intinya, cari suasana baru. Karena dengan suasana baru bisa membuat pikiran kita lebih tenang. Sebelum memutuskan untuk pindah, ada baiknya kamu pikirin dulu dengan kepala yang berisi otak. Karena ya, dunia belum berakhir setelah kalian putus; Indomie masih seleraku, Le minerale masih ada manis-manisnya gitu, KFC juga masih jagonya ayam. 

6. Tetap menjalin komunikasi

Cara yang satu ini hanya dilakukan oleh pemeran profesional. Hihi. Atau pemeran yang sudah mencoba 5 cara sebelumnya, tapi menurutnya masih gagal. Akhirnya, ya udah lah, hai apa kabar lagi. Berlanjut menjadi penonton di story whatsup dan sosial media lainnya. Kalau jodoh ya pasti balik lagi dan berakhir di pelaminan.

Oke, sekian enam cara move on dari mantan. 

Lah terus, mana yang paling pas hei? Main udahan aja. Ngaco!

Hihi, gini teman-temanku atau bahkan mantanku yang budiman, ekhem. Untuk tahu mana yang paling pas, sebelumnya kamu harus tentuin dulu nih apasih definisi move on menurut kamu. Misal, move on itu udah nggak berhubungan sama dia, move on itu nggak sedih lagi kalau ingat dia, dan sebagainya.

Nah, kalau udah nemu definisi move on versi kamu, aku rasa salah satu dari enam cara di atas ada yang pas buat kamu. Contohnya nih, bagi kamu move on itu dapat pacar baru. Ya udah cara yang paling pas ya cari pacar/gebetan baru lagi. Atau move on itu ikut bahagia lihat dia bahagia. Berarti kamu nggak perlu blokir sosmed mantan. Walaupun mungkin ada teman yang bilang ‘yaelah ngapain masih follow mantan. Belum bisa move on?’ Abaikan! Caramu move on nggak harus sama kayak cara teman kamu move on. Nggak perlu paksain blokir sosmed kalau kamu emang nggak bisa lakuin itu. Nggak perlu paksain tetap jalin komunikasi kalau ternyata jiwa raga kamu nggak kuat lihat dia suatu saat sama yang lain. Paham?

Jadi, cara move on yang paling pas buat kamu ya yang sesuai sama kapasitasmu. Sanggupmu seberapa, sanggupmu yang mana. Bukan kata si A si harus gini harus gitu. Nggak harus. Oke?

Selamat menemukan cara paling tepat untuk move on dari patah hati terhebat.


@kutuhati


Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Perempuan berkacamata yang suka menarasikan luka dengan penuh cinta.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 129 Ribu untuk Kado Ulang Tahunku!
  • 13
  • DIY Tote Bag dari Celana Jeans Bekas

Categories

  • artikel 4
  • cerpen 7

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates